Jumat, 31 Juli 2020

Latar Belakang Pengaruh Koran Bali Post Terhadap Pilpres 2014

Latar Belakang Pengaruh Koran Bali Post Terhadap Pilpres 2014


Latar Belakang

Pemilihan presiden (Pilpres) Republik Indonesia sudah sangat dekat dan akan dilaksanakan pada 9 Juli 2014. Kedua pasangan capres dan cawapres sudah mulai gencar melakukan kampanye-kampanye diberbagai wilayah di Indonesia. Kegiatan-kegiatan mereka ini tentu dilaporkan, diliput dalam berbagai media massa, saah satunya adalah Koran.

Berbagai aksi kampanye kedua calon pastinya diliput berbagai Koran di seluruh Indonesia, begitupun dengan Bali. Menariknya di Bali sebelumnya terdapat kasus yang menyangkut Koran dengan partisipasi politik masyarakat yaitu Pemilihan Gubernur 2013. Sebut saja Koran itu adalah Bali Post. Terlepas dari latas belakanga permasalah kasus tersebut, Bali Post sebagai media cetak terbesar di Bali bersifat tidak objektif dalam memberikan informasi kepada masyarakat. Bukan hanya tidak objektif tetapis secara terang-terangan menentang salah satu calon dan mendukung calon lainnya.

Penolakan terhadap Bali Post dilakukan dengan berbagai tindakan oleh berbagai lembaga masyarakat di Bali. Seperti di Singaraja Koran Bali Post dibakar oleh Gerakan Masyarakat Peduli Ragam Media juga oleh Aliansi Krama Bali Anti Pembodohan Publik , sementara di Denpasar Koran Bali Post  “Diaben” di depan monument bajra sandhi yang dilakukan oleh sekelompok massa. Hal ini dikarenakan selama ini media Bali Post di anggap tidak independen dalam memberitakan Pemilihan Gubernur Bali. Bahkan di anggap sebagai pemecah belah dan merusak tatanan keamanan Bali. 

Grup Bali Post melalui penyiaran BaliTV dan Bali Post telah mengubah dirinya menjadi provokator. Lembaga ini memprovokasi masyarakat dengan informasi yang bersifat fitnah, menyesatkan dan cenderung memecah belah. Provokasi itu dilakukan dalam bentuk (1) Banner GANTI GUBERNUR di BaliTV dan Bali Post. Ini bermakna, grup ini memprovokasi masyarakat untuk mengganti gubernur 15 Mei nanti. (2) Iklan layanan masyarakat “Bali Benyah Latig”. Ini memprovokasi masyarakat bahwa salah satu kandidat jangan dipilih karena melakukan politik uang. Karena Bali benyah latig, maka harus gubernur baru.

Hal ini tambah menarik pada Pilpres 2014 kali ini karena Bali Post mendukung salah satu partai terbesar di Bali yang juga mengusung Capres mereka dalam Pilpres sebut saja pasangan no. 2. Peneliti ingin melihat apakah masih ada masyarakat yang membaca Koran Bali Post serta pengaruh pemberitaan Koran Bali Post tersebut terhadap daya pilih masyarakat. Apakah masyarakat sudah tidak mempercayai kredibilitas Bali Post, atau terpengaruh dalam pemberitaanya dan mengambil keputusan untuk memilih pasangan no. 2 pada 9 juli mendatang nanti.

Media Massa

Koran merupakana salah satu media massa yang sangat mudah untuk diakses. Media massa atau pers menurut Leksikon Komunikasi, media massa adalah “sarana penyampai pesan yang berhubungan langsung dengan masyarakat luas misalnya radio, televisi, dan surat kabar”. Terdapat 5 jenis media massa yakni Koran, tv, majalah, radio, dan majalah serta kini ada internet (cybermedia, media online).

Menurut Raden Mas Djokomono media massa atau pers adalah yang membentuk pendapat umu melalui tulisan dalam surat kabar. Peniliti memakai acuan dari teori ini mengingat bahwa media massa memiliki pengaruh yang besar terhadap minat, pikiran, serta tindakan masyarakat.

            Koran merupakan media massa yang sangat mudah didapatkan selain TV dan beritanya lebih menyeluruh dari media lainnya. Hal ini dikarenakan harga Koran yang sangat murah hingga bias dibeli oleh berbagai lapisan masyarakat serta isi dari Koran tersebut lebih luas dan spesifik kepada daerah tempat dimana Koran itu berada. Berbeda dengan TV dimana masyarakat harus membeli TV, dan antenna yang tentunya tidak bisa didapatkan oleh berbagai lapisan masyarakat ditambah lagi isi berita TV hanyalah mencakup masalah-masalah nasional. Maka dari itu Koran lebih digemari dan berperan penting kepada masyarakat.

Hak Suara Masyarakat

            Masyarakat yang sudah berusia 18 tahun keatas dan memiliki Kartu Identitas Penduduk serta terdaftar dalam Daftar Pemilih Sementara/Tetap (DPS/T) yang dikeluarkan oleh KPU memiliki hak suara/pilih dalam Pemilihan Presiden 9 Juli 2014 mendatang.

            Tentu dalam pemilihan oleh masyarakat tidak instan begitu saja tetapi melalui banyak factor. Seperti factor budaya, lingkungan, serta personal masyarakat itu sendiri. Faktor budaya misalnya seperti pembentukan budaya politik dalam masyarakat maupun pribadi. Terutama di bali dimana partai PDIP merupakan partai dominan karena memiliki nilai sejarah dan budaya dengan Bali. 

Teori Jarum Hipodermik

Istilah model jarum hipodermik dalam komunikasi massa diartikan sebagai media massa yang dapat menimbulkan efek yang kuat, langsung, terarah,dan segera. Model jarum suntik pada dasarnya adalah aliran satu tahap (one step flow), yaitu media massa langsung kepada khalayak sebagai mass audiance. Model ini mengasumsikan media massa secara langsung, cepat, dan mempunyai efek yang amat kuat atas mass audiance. Teori ini memiliki kesamaan cara kerja dengan Teori Stimulus-Response dimana kita akan berespons dengan cepat jika tangan kita terkena api. Contoh terbesar teori ini adalah pidato Adolf Hitler melalui radio public yang memulai holocaust Perang Dunia II dan pidato Bung Tomo membakar semangat arek-arek suroboyo.

Teori peluru atau jarum hipodermik mengansumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori ini mengansumsikan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak berdaya (pasif).

Menurut Elihu Katz, model ini berasumsi :

1.    Media massa sangat ampuh dan mampu memasukkan ide-ide pada benak komunikan yang tak berdaya.

2.    Khalayak yang tersebar diikat oleh media massa, tetapi di antara khalayak tidak saling berhubungan.

Model Hypodermic Needle tidak melihat adanya variable-variable antara yang bekerja diantara permulaan stimulus dan respons akhir yang diberikan oleh  mass audiance. Elihu Katz dalam bukunya,  “The Diffusion of New Ideas and Practices” menunjukkan aspek-aspek yang menarik dari model hypodermic needle ini, yaitu:

1. Media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, sanggup menginjeksikan secara mendalam ide-ide ke dalam benak orang yang tidak berdaya.

2.  Mass audiance  dianggap seperti atom-atom yang terpisah satu sama lain, tidak saling berhubungan dan hanya berhubungan dengan media massa.

Kalau individu-individu mass audience berpendapat sama tentang suatu persoalan, hal ini bukan karena mereka berhubungan atau berkomunikasi satu dengan yang lain, melainkan karena mereka memperoleh pesan-pesan yang sama dari suatu media (Schramm, 1963)

Partisipasi Politik

Partisipasi politik menurut Herbert McClosky seorang tokoh masalah partisipasi yang dikutip oleh Prof. Miriam Budiardjo dalam buku Dasar Ilmu Politik (2008) :

Partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga masyaraakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses pemilihan penguasa, dan secara langsung atau tidak langsung, dalam proses pembentuk kebijakan umum.

Budiardjo (367,2008) mengklasifikasian kegiatan-kegiatan partisipasi politik antara lain memberikan suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat, umum, mengadakan hubungan atau lobbying dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen, menjadi anggota partai atau salah satu gerakan sosial dan direct actionnya.

Menurut Milbrath dan Goel(1997) partisipasi politik masyarakat dapat dibagikan dalam tiga kategori:

a.     Pemain : orang yang sangat aktif dalam dunia politik

b.     Penonton : orang yang aktif minimal, memakai hak pilihnya

c.     Apatis  ; tidak aktif sama sekali, tidak memakai hal pilihnya.