Sabtu, 08 Agustus 2020

Sudah Siap Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning

Sudah Siap Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning

Sudah Siap Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning - Sejumlah sekolah telah melakukan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi virus corona.

Meski pihak sekolah mengklaim penerapannya menerapkan protokol kesehatan, ada kekhawatiran pembelajaran tatap muka bisa meningkatkan penyebaran virus corona.

Sudah Siap Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning

Di Tegal, Jawa Tengah, ada siswa yang dinyatakan positif Covid-19. Sebelumnya, dia pernah mengikuti pelajaran kelas. Hari ini, Jumat (7/8/2020), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan sekolah di zona hijau dan kuning diperbolehkan belajar tatap muka.

Keputusan ini didasarkan pada revisi SKB empat menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Agama (Menag), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri). ) mengenai proses pembelajaran tatap muka di sekolah pada tahun ajaran 2020/2021.

Ada kekhawatiran dengan dibukanya pembelajaran tatap muka di sekolah. Apalagi potensi anak terpapar virus corona masih tinggi.

Epidemiologi Risiko dan Berbahaya dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menilai membuka sekolah sangat berisiko dan berbahaya.

Apalagi, belum ada penelitian komprehensif mengenai efek jangka pendek dan jangka panjang infeksi virus corona pada anak

Sedangkan penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak memiliki gejala justru mengalami kerusakan organ paru-parunya, kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Jumat (7/8/2020).

Dicky menjelaskan, fakta dan sejarah pandemi sebelumnya telah membuktikan hal tersebut. Ini harus menjadi pelajaran untuk memprioritaskan kehati-hatian. 

Ia mengatakan para peneliti juga melihat banyak kasus kesehatan yang terjadi dalam jangka panjang setelah pandemi berakhir. 

“Ensefalitis lesu adalah salah satu hal yang kami deteksi dapat terjadi setelah infeksi Covid-19,” katanya. Dicky menyarankan, dalam situasi seperti ini, sistem pembelajaran online harus dilaksanakan dengan berbagai inovasi. 

Makanya banyak ahli perlu dilibatkan dalam pengendalian suatu pandemi. Tidak hanya kesehatan. Pakar pendidikan perlu dimintai pendapatnya, ”kata Dicky. Pembelajaran online harus terus berlanjut hingga akhir tahun ini.

Orang muda yang menderita Covid-19 semakin meningkat

Dicky mengingatkan, rilis terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan proporsi anak muda yang menderita Covid-19 meningkat tiga kali lipat dalam 5 bulan terakhir. 

Sementara di Inggris, cluster kasus di sekolah-sekolah meningkat dalam dua minggu terakhir. Kenaikannya dari 4,5 persen menjadi 15 persen. 

“Studi yang dipublikasikan di JAMA menyebutkan bahwa penutupan sekolah sangat berkorelasi dengan penurunan morbiditas dan mortalitas akibat Covid-19,” jelas Dicky.

WHO dengan tegas memperingatkan bahwa kaum muda dapat tertular dengan resiko meninggal, dan dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.

Dicky mengatakan, potensi bahaya pembukaan kembali sekolah sangat penting dilakukan, di tengah proporsi kasus anak secara global yang meningkat tiga kali lipat.

"Kasus anak di Indonesia lebih tinggi dari rata-rata global, begitu pula kematian pada anak," ujarnya. “Dan yang membuat saya sangat khawatir adalah data kasus infeksi Covid-19 pada anak-anak yang dikhawatirkan di atas masih belum menggambarkan masalah yang sebenarnya karena cakupan pemeriksaan kami sangat rendah, terutama pada anak-anak,” ujarnya.

Aman di area dengan tingkat transmisi rendah

Dicky mengatakan, sekolah yang berhasil dan aman dibuka selama pandemi adalah sekolah yang berada di lokasi atau daerah yang telah mencapai tingkat penularan komunitas yang rendah atau tingkat penularan komunitas yang rendah. 

Parameternya kurang dari 1 kasus baru per 100.000 orang per hari. “Ini belum terpenuhi di Indonesia,” ujarnya. Selain itu, menurutnya, yang harus dilakukan saat ini adalah tetap fokus menjaga pengendalian infeksi tingkat populasi atau pengendalian infeksi tingkat populasi. 

“Mayoritas wilayah kita, meski masuk zona hijau, belum cukup teruji untuk membuka kembali sekolah dengan aman,” lanjut Dicky. Ia menjelaskan, keselamatan sekolah sangat bergantung pada tingkat penularan di masyarakat. 

Artinya, saat penularan masih tinggi di masyarakat, maka risikonya semakin besar bagi pelajar. “Ini peringatan dan perlu dicegah agar tidak terjadi di Indonesia dengan tetap menutup sekolah hingga penularan di masyarakat terkendali,” kata Dicky. 

Risiko Covid-19 pada anak-anak, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet, patut menjadi perhatian. Penelitian dilakukan terhadap 582 anak yang terinfeksi Covid-19 di 21 negara Eropa yang diidentifikasi berada di rumah sakit. 

Data penelitian menunjukkan sebagai berikut. 62 persen harus dirawat, dengan 8 persen di ICU 4 persen membutuhkan ventilasi mekanis, dengan rata-rata 7 hari, dan dalam rentang 1-34 hari 25 persen memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya atau cormobid 0,7 persen telah meninggal.

Sumber : Kompas.com